Yang Bisa Dipelajari Seorang Creative Worker dari Dokter

Beberapa hari ini, badan saya lagi nggak karuan rasanya. Kelelahan yang terlalu lelah disinyalir jadi biang keroknya. Sebagaimana orang-orang merespon sakit yang hadir, pun saya melakukan self diagnosis. Hasilnya adalah,”Ah, paling batuk pilek aja, nih. Istirahat paling juga sembuh. Nggak perlu ke dokter.” Padahal, kurang dari 200 meter dari rumah, ada praktik dokter yang sebetulnya sudah jadi langganan keluarga saya.


Sok tau memang mahal harganya. Beberapa hari setelah sok membuat diagnosis, ternyata sakit justru semakin menjadi-jadi. Harusnya, sejak awal saya sadar kalau saya itu mahasiswa komunikasi, bukan kedokteran. Bisanya bikin press release, headline, script, atau soft news, bukan diagnosis penyakit. Akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter. Sepulang kerja, saya langsung mampir ke dokter. Karena sudah langganan, ruang periksa sudah tidak asing buat saya. Kira-kira lima menit saya menunggu, bu dokter pun muncul. Sesi pemeriksaan diawali dengan tanya jawab. Sama sekali tidak ada pemeriksaan menggunakan stetoskop atau cek tensi. Saya cuma ditanya keluhannya apa? Sudah berapa hari sakit? Sudah minum obat apa? Kapan lulus? Oke, pertanyaan keempat itu fiktif. Setelah sesi tanya jawab selesai, baru bu dokter memeriksa tensi, nafas, dan tenggorokan (eh, atau kerongkongan, ya? Saya taunya cuma beda Arial ama Helvetica soalnya :( )saya.


Baru setelah seluruh ritual dilakukan, bu dokter mulai membuat sebuah summary akan penyakit saya ini. Ternyata, saya radang dan tensinya tinggi. Pantesan tenggorokan buat nelen sakit banget rasanya. Sedangkan tensi tinggi karena kecapekan dan efek obat yang sudah saya minum sebelum ke dokter. Singkat cerita, saya membawa pulang 5 jenis obat yang harganya lumayan mahal. Tapi, meski mahal, saya pulang dengan hati lebih gembira. Karena saya yakin, obat ini akan membuat saya segera sembuh.


Obat langsung saya minum ketika sampai di rumah. Ternyata, minum 5 jenis obat sekaligus itu lumayan bikin kenyang juga. Sembari menunggu efek obat yang katanya bikin ngantuk semua itu, saya merenungi lagi ke-kampretan saya yang sok self diagnosed. Kemudian saya mencerna proses bu dokter memeriksa saya. Tiba-tiba saya menyadari sesuatu. Ada pendekatan dokter dalam memeriksa pasien yang bisa digunakan para pekerja kreatif (designer, copywriter, web developer, dll).


Mari kita ibaratkan bahwa client adalah pasien dan pekerja kreatif adalah dokter. Proses pertemuan pertama relatif sama. Client/pasien datang ke pekerja kreatif/dokter karena merasa punya masalah/sakit. Banyak kampret-kampret seperti saya, yang sudah bikin self diagnosis dulu sebelum ke dokter. Pun, sama dengan client. Berapa kali teman-teman kreatif sudah ketemu client dengan keluhan berikut:
  • Penjualan saya stuck, pasti ini karena social media saya nggak jalan
  • Bisnis saya sepi, pasti ini karena ada kompetitor
  • Kompetitor saya berkembang terus, saya harus bikin produk baru
  • Saya perlu ganti logo, soalnya kurang kekinian.


Kalau direnungkan, client model gini sama seperti pasien kampret bernama Daniel Revelino yang sudah yakin cuma sakit batuk pilek. Berdasarkan pengalaman, rata-rata pekerja kreatif akan menelan mentah-mentah brief yang berdasarkan asumsi dari client. Ibarat kata, saya ke dokter, bilang kalau saya batuk, minta obat batuk. Terus sama dokter langsung dikasih obat batuk tanpa diperiksa sebetulnya sakit apa. Bahaya, kan?


Bagaimana jika, kita, para pekerja kreatif melakukan hal yang sama dengan dokter? Ada proses diagnosis tentang permasalahan client yang sesungguhnya. Bisa jadi, client yang yakin bahwa bisnisnya sepi karena kompetitor itu ternyata masalahnya ada di promosi. Bisa aja, client yang merasa socmed-nya bapuk itu, sebetulnya masalahnya ada di packaging. Bisa aja, kan?
Kenapa pekerja kreatif tidak menanyakan beberapa poin sebelum menentukan core problem? Misal


“Bisnis saya sepi, pasti karena kompetitor.”
“Maaf, pak. Kalau boleh tahu, selama ini program promosi apa saja yang pernah dilakukan?”
“Nggak pernah, mas.”


Naaah, bisa jadi masalahnya bukan di kompetitor, tapi di strategi promosi. Seandainya hal ini dilakukan, mungkin client pun akan pulang dengan hati gembira, meski harus merogoh kocek cukup dalam. Karena, mereka yakin, apapun yang akan mereka dapatkan pasti menyelesaikan masalah mereka. Sama seperti saya yang pulang dari dokter dengan gembira sembari menggenggam erat kantong plastik berisikan obat :)

Pelajaran moral: let the expert do the right thing. There's reason why expert called expert. 

No comments:

Powered by Blogger.