Monday, September 25, 2017

Alasan Kenapa Bawa Kamus Setiap Hari itu Baik. No 8 Paling Mencengangkan!

“Anak jaman sekarang udah susah banget lepas dari smartphone” - seorang teman saya

    Rasanya, banyak orang yang menyetujui pernyataan salah seorang teman saya itu. Tapi, kalau boleh, saya mau revisi sedikit. Sepertinya lebih cocok begini kalimatnya,

“Hampir tiap orang, susah banget lepas dari smartphone”

    Mau generasi millennial, generasi X, generasi Y, generasi Z, semua sudah terlanjur punya keintiman dengan smartphone-nya masing-masing. Cuma 1 dari 10 orang yang akan cuek aja ketika sadar HP nya ketinggalan di rumah pas mau  pergi. Yang 9 orang, memutuskan untuk pulang lagi, meskipun sudah sangat dekat dengan destinasi. Demi sebuah smartphone.

    Smartphone, dengan segala fiturnya, digadang-gadang memiliki banyak manfaat positif bagi penggunanya. Iya, yang menggunakan secara positif. Yang kerjaannya kepo akun gosip di IG tiap hari juga banyaaak. Lebih banyak, mungkin, dibanding yang tiap hari baca berita bermanfaat di CNN atau BBC. Yang mengakses jurnal internasional bisa dihitung dengan jarinya Doraemon, alias jarang banget. Smartphone, bikin attention span kita jadi sangat pendek. Udah bukan short term lagi, tapi very very short term.

    Dan celakanya, saya pun mulai merasakan kencaduan smartphone, atau social media lebih tepatnya. Kecemasan ini muncul karena saya mulai terlalu sering meraih smartphone untuk mengakses social media tanpa tujuan yang jelas. Rasanya tangan ini sudah punya jalurnya sendiri, seperti bus transjakarta. Otomatis mencari smartphone, menggenggamnya dengan mesra, dan mulai scrolling timeline. Cemas, gelisah, karena saya nggak mau kencaduan social media. Bisa bahaya. Waktu, tidak bisa diputarbalik. Saya nggak mau di umur 40an saya menyesali waktu yang terbuang karena kepo baca berita terhangat Line Today atau kepo IG story selebgram yang sebetulnya saya nggak kenal juga. Saya harus berbuat sesuatu.

    Menurut asumsi saya, sebetulnya tangan ini suka sok inisiatif meraih smartphone karena kita nganggur, bengong, bosen, dan merasa butuh sesuatu untuk mendistraksi perasaan itu. Dan media yang paling dekat, menyenangkan, dan egois adalah smartphone. Jadi, saya memiliki hipotesa bahwa yang kita butuhkan cuma alternatif pengganti smarphone ketika nganggur, bengong, bosen mulai melanda. Jika dipikir-pikir, sebetulnya banyak hal yang bisa kita jadikan alternatif, mulai dari baca buku, menghafalkan nama latin jenis-jenis padi, merencanakan hidup, atau merenungi nasib yang gini-gini aja. Karena saya anak IPS yang sudah bosan merenungi nasib, saya memilih buku sebagai media alternatif saya.
   
Belakangan, saya sering bawa buku kemana-mana. Di tas, pasti selalu ada buku bacaan. Bukunya nggak selalu sama, bisa ganti-ganti tiap hari. Tapi, pasti selalu ada buku yang siap saya hampiri ketika smartphone terasa sangat menggoda. Metode ini lumayan berhasil, meskipun belum 100%. Karena saya punya pilihan, antara smartphone atau buku. Kadang-kadang buku yang menang, tapi nggak jarang juga smartphone yang menang.

    Ada satu buku yang selalu saya bawa kemana-mana. Judulnya, “Oxford Learner’s Pocket Dictionary”. Iya, saya bawa kamus. Kenapa kamus? Karena kamus ini kepake terus setiap hari. Sebagai insan yang suka sok baca artikel berbahasa Inggris, saya sering menemui vocab yang nggak tau artinya. Berangkat dari kebutuhan ini, saya coba alihkan kebiasaan nyari di google translate jadi aktivitas buka-buka halaman kamus. Di saat bosen, bisa juga iseng nyari perbendaharaan vocab baru. Setidaknya, otak saya punya alternatif kebiasaan selain nyamber smartphone. Sekarang bisa juga nyamber kamus Oxford. Oh iya, entah kenapa, vocab yang saya cari secara manual di kamus lebih nempel di otak daripada yang dicari di google translate.

Source: Google


Mungkin, metode saya bisa digunakan oleh teman-teman yang membaca tulisan singkat ini.

Ps:
Tulisan ini ditulis setelah membaca tulisan teman saya yang ini.
Sorry for the title. Can't resist the temptation to make such a bombastic title.

No comments:

Post a Comment