Monday, August 24, 2015

BATTLE OF SURABAYA : No Glory In War

            Semalam saya dan dua teman saya memutuskan untuk nonton sebuah film karya anak bangsa yang sempat jadi buah bibir di dunia maya. Battle of Surabaya, sebuah film animasi bertemakan perjuangan yang digarap oleh mahasiswa-mahasiswa AMIKOM Jogjakarta. Cerita film ini diadaptasi dari kisah Perang 10 November 1945 di Surabaya yang jadi cikal bakal hari Pahlawan. Ketika pertama kali diajak teman untuk nonton film ini, saya ngerasa sangat excited. Penasaran seperti apa sih film animasi lokal yang bisa ikutan mejeng di bioskop-bioskop. Bahkan sebelum nonton saya sempet googling tentang film ini, dan banyak komentar positif tentang film ini di dunia maya. Saya makin semangat!! Saya berencana nonton jam 18:30. Karena melihat animo yang amat positif di dunia maya tentang film ini, saya dan teman saya berasumsi pasti bakal banyak banget yang mau nonton Battle of Surabaya. Karena kami adalah generasi yang penuh perhitungan, maka kami memutuskan untuk datang satu jam sebelum film dimulai. Supaya kebagian tiket dan bisa milih tempat yang strategis. Heheheheh
            Tepat 18:30 saya masuk ke studio. Ekspektasi saya tentang jumlah penonton film ini salah besar. Studio cuma berisikan kurang dari 30 orang. Rasanya sedih banget melihat film lokal yang menurut saya (berdasarkan riset di dunia maya) berkualitas ini sepi penonton. Yah, nampaknya orang Indonesia masih memandang sebelah mata karya anak bangsanya sendiri L Rasa sedih saya langsung terhapuskan ketika film dibuka dengan logo AMIKOM Jogjakarta. Jujur, rasanya merinding banget ketika logo AMIKOM Jogjakarta terpampang di layar lebar. Ada perasaan bangga bercampur ga nyangka kalau film yang akan saya tonton ini merupakan buah tangan teman-teman di kota sebelah. Adegan dibuka dengan peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki, kemudian diikuti dengan penjelasan singkat kronologis kemerdekaan RI. Saya cuma bisa melongo. GAMBARNYA BAGUUUUS BANGET!!!! GAMBARNYA MELEBIHI EKSPEKTASI SAYA!!!! Buat perbandingan, menurut saya gambar Battle of Surabaya ini 11-12 dengan gambar kartun Avatar the Legend of Aang. Serius, gambarnya bagus banget!! Ada salah satu adegan yang memperlihatkan armada kapal perang Inggris mendekati pelabuhan Tanjung Perak yang langsung mengingatkan saya pada adegan ketika kapal perang Negara Api mau menyerang suku Air di Avatar Aang!! Secara visual, Battle of Surabaya layak diacungi jempol!!
            Battle of Surabaya menceritakan seorang penyemir sepatu bernama Musa yang bekerja merangkap sebagai kurir pesan rahasia. Maklum, jaman itu belum ada LINE atau BBM. Sepanjang film Musa akan ditemani oleh dua sahabatnya, Yumna (Maudy Ayunda) & Mas Danu (Reza Rahardian). Yumna harus kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil karena dibunuh oleh tentara Jepang. Mas Danu lah yang merawat Yumna sejak kecil. Di dalam film ini dikisahkan ada sebuah organisasi bawah tanah bentukan Jepang yang bernama Kipas Hitam. Saya ga tau apakah ini hanya rekaan fiktif belaka atau memang ada organisasi bernama Kipas Hitam. Organisasi Kipas Hitam ini memiliki tujuan untuk melindungi kepentingan Jepang. Dan ternyata Mas Danu dan Yumna adalah anggota dari organisasi ini!! Musa mengetahui fakta tentang mas Danu dan Yumna, kemudian menganggap mereka sebagai pengkhianat bangsa. Namun setelah melewati beberapa konflik dan drama, mas Danu dan Yumna kembali berpihak pada Indonesia. Menurut saya, dari segi alur cerita, film ini masih kurang kuat. Saya sempat bingung di beberapa bagian karena ada sedikit bagian yang jumping. Perpindahan dari tiap scene juga masih kurang baik, menurut saya. Ketika saya masih mencoba memahami satu scene, saya sudah diajak berpindah ke scene selanjutnya. Oh iya, meskipun ini film tentang perang, tapi justru adegan perangnya kurang begitu banyak. Plus ada bumbu romansa di film ini. Seperti layaknya FTV, Musa, Yumna dan Mas Danu terlibat dalam cinta segitiga. Musa dan mas Danu jatuh hati pada Yumna. Yumna, menyayangi mas Dani, tapi hanya sebagai seorang kakak. Dan entah bagaimana perasaan Yumna ke Musa.
            Selain aspek visual, satu hal yang patut diacungi jempol untuk film ini adalah aspek humornya!! Saya ga berhenti ketawa terpingkal-pingkal dengan humor yang dibawakan oleh Cak Soleh, seorang tentara dengan logat Surabaya yang kental. Humor di dalam film ini membawa kearifan lokal, menurut saya. Beberapa humor memanfaatkan logat-logat yang ada di Indonesia. Saya sebagai orang Jawa spontan tertawa ketika pada suatu adegan mas Danu berseloroh menggunakan frasa “Mbahmu!” kepada Cak Soleh. Secara keseluruhan saya puas membelanjakan uang saya untuk menonton film ini. Tapi menurut teman saya, pengisi suara untuk Yumna dan Mas Danu kurang cocok. Mungkin karena Reza Rahardian dan Maudy Ayunda memang ga terbiasa jadi dubber. Teman saya berpendapat akan lebih baik kalau saja dubbernya menggunakan tenaga ahli yang sudah terbiasa mengisi suara film animasi. Yah, kehadiran Reza Rahardian dan Maudy Ayundya kan memang dijadikan sebagai nilai jual dari film ini. Yang saya lihat dari setiap promosinya memang Reza Rahardian dan Maudy Ayundya menjadi bahan “jualan” utama film ini. Ironis, ketika sebuah film lokal harus berjuang mati-matian untuk mendapatkan perhatian dari masyarakat. Jujur, saya pribadi nonton film Battle of Surabaya karena film ini dibuat oleh anak bangsa. Bukan produk Hollywood.

Setelah film habis diputar, saya masih duduk termenung di kursi empuk berwarna merah menyala. Mata saya masih belum lepas dari credit title yang terus berjalan. Perasaan bangga menyelimuti hati saya diiringi dengan merinding di area tengkuk. Rasanya sungguh terharu bisa menjadi saksi salah satu karya anak bangsa. Saya yakin, ke depannya masih banyak produk lokal bekualitas yang akan muncul. Tidak hanya pada ranah film saja. Semoga, ketika waktu itu datang, masyarakat lebih bisa menghargai karya keringat anak bangsa. Semoga, ketika ada film seperti Battle of Surabaya lagi, studio akan penuh sesak oleh penonton. Sama seperti ketika kita menonton film-film milik Hollywood J

No comments:

Post a Comment