Monday, June 8, 2015

Everything start from a small thing

Coba bayangkan, saat ini dirimu duduk termenung di bawah pohon yang rindang pada siang hari. Menatap langit biru dengan awan putih yang nampak seperti gumpalan kapas. Matahari bersinar cukup terik, tetapi keberadaanmu dilindungi oleh rindangnya pepohonan di atas kepalamu. Sinar matahari menembus malu dedaunan dan ranting, menyentuh kulitmu. Hangat, tetapi tidak panas. Hembusan angin seakan menggodamu untuk memejamkan mata barang sekejap. Matamu masih terus menerawang ke langit, seakan bisa melihat keberadaan yang ada di balik awan. Mencoba membayangkan hari-hari yang akan datang. Dengan satu tarikan nafas yang cukup panjang, pertanyaan itu terucap, “Apakah jalanku sudah benar?”
22 tahun sudah kamu menjalani kehidupan. Sudah begitu banyak hal terjadi di dalam kehidupanmu. Manis, pahit, tawa, tangis, semua pernah kamu rasakan. 22 tahun bukan waktu yang singkat untuk mulai bertanya mengenai kehidupan. Namun waktu yang singkat untuk memahami jawabannya. Wisuda sudah menanti di depan mata, menjadi sebuah langkah awal bagimu memasuki fase baru dalam kehidupan. Lepas sudah statusmu sebagai mahasiswa. Hilang sudah statusmu sebagai anak muda. Selepas berfoto bersama orang tua dengan baju toga itu, kamu resmi menyandang gelar baru. Bukan, bukan gelar sarjanamu. Tetapi gelarmu sebagai seseorang yang sudah dewasa. Gelar yang rasanya lebih menakutkan dibandingkan perjuangan yang harus kamu lakukan untuk mendapatkan gelar sarjanamu.
“Setelah wisuda mau apa?”
“Kerja? Atau kuliah lagi?”
“Kalau kerja, mau kerja jadi apa? Dimana?”
“Kuliah? Universitas mana yang akan kamu tuju?”
“Ke kota mana kamu akan melangkah?”
“Apakah gelar sarjanamu akan menjamin kesejahteraanmu?”
Terlalu banyak pertanyaan yang berebutan untuk dijawab. Pertanyaan yang rasanya terlalu sulit untuk dijawab bagi orang seusiamu. Kamu lebih memilih untuk tenggelam di balik kursi ketika ujian, menatap lembar soal ujian Statistik yang bahkan tidak kamu mengerti sama sekali. Dibandingkan harus menjawab salah satu dari pertanyaan di atas. Otakmu berfikir keras, mencari tahu apa yang sebetulnya terjadi. “Apakah hanya aku saja yang diganggu dengan pertanyaan semacam ini?”, pikirmu. Sesaat kamu memejamkan  mata. Terlintas memori itu, ketika salah seorang sahabatmu mengutarakan kegundahan hatinya seperti yang kamu rasakan saat ini.
It’s been more than a year. Saat itu, selepas kelas sahabatmu mencurahkan keluh kesahnya mengenai hidup. Ia bingung harus kemana ia melangkah untuk bisa memenangkan kehidupan ini. Saat itu kamu tidak bisa memberikan jawaban apapun. Bahkan, kamu menganggapnya sebagai orang yang aneh. Mengapa harus begitu khawatir dengan kehidupan? Kita masih muda, untuk apa bersusah payah memikirkan masa depan yang masih jauuuh. Lebih baik kita nikmati masa muda dengan bersenang-senang. Begitu pikirmu saat itu. Namun, saat ini kamu sadar. Apa yang dirasakan sahabatmu itu adalah sesuatu yang wajar. Memang seharusnya kita mengkhawatirkan hidup. Agar kita bisa menyiapkan berbagai rencana untuk menghadapi kehidupan yang kadang pahit, kadang manis ini. Kamu mengutuk dirimu sendiri yang saat itu hanya mencemooh pemikiran sahabatmu. Andai saja saat itu kamu sudah memikirkan ini, sekarang kamu pasti sudah memiliki berbagai rencana untuk kehidupanmu.
Kamu coba menggali kembali kenangan itu. Apa kira-kira yang sahabatmu lakukan untuk menjawab pertanyaan yang mengganggu ini? Saat ini, ia sudah menjadi Kepala Cabang di salah satu perusahaan ternama. Bagaimana ia mempersiapkan kehidupannya? Bagaimana ia bisa tahu harus kemana ia melangkah? Semakin lama, seluruh pikiranmu tertuju pada sosok sahabatmu. Lembar demi lembar kisah hidupnya coba kamu buka kembali dan kamu pahami. Pikiranmu terhenti ketika mengingat bagaimana sahabatmu itu berusaha selama 1 tahun belakangan. Ia mencoba banyak hal. Ia pernah menjadi seorang wartawan, fotografer, graphic designer, hingga membantu riset pemasaran yang dilakukan oleh beberapa dosen. Perlahan, kepingan pemikiran yang sudah kamu keluarkan dari kotak kenanganmu mulai tersusun menjadi sebuah jawaban. Sahabatmu, telah mencoba banyak hal. Ia berusaha menemukan jalannya dengan cara mencoba beberapa profesi. Kamu ingat betul bagaimana sahabatmu mengeluh ketika ia menjadi wartawan. Ia mengeluhkan betapa sulitnya untuk mendapatkan sebuah berita. Pun, ketika ia harus begadang demi menyelesaikan revisi design. Di setiap pekerjaannya, ia pasti mengeluhkan sesuatu. Hanya satu pekerjaan yang rasanya tak pernah ia keluhkan. Ketika ia membantu riset pasar yang dilakukan beberapa dosen. Padahal kamu tahu betul betapa berat tugas yang harus ia kerjakan. Dan betapa kecilnya bayaran yang ia terima, jika dibandingkan dengan ratusan lembar kuesioner yang harus ia hadapi setiap harinya. Saat itu, kamu bertanya, mengapa sahabatmu menikmati pekerjaannya membantu riset dosen? Saat ini, kamu baru sadar. Riset yang dahulu bayarannya kecil itu lah yang mengantarkannya menjadi Kepala Cabang. Karena keahliannya di bidang riset pemasaran lah, sahabatmu menikmati jabatannya saat ini.
Pikiranmu kembali ke masa sekarang. Perlahan matamu terbuka, sinar matahari mulai memenuhi pupilmu. Membuatmu harus mengangkat tanganmu untuk mengurangi rasa silau di matamu. Pikiranmu terasa begitu jernih. Rasa-rasanya sudah kamu dapatkan kunci jawaban untuk seluruh pertanyaanmu tadi. “Aku hanya harus mencoba melakukan banyak hal. Agar aku tahu apa yang menjadi passion ku”, ucapmu dalam hati. Passion bukanlah hal yang bisa kamu temukan dengan cara berdiam diri dan membayangkan apa yang sebaiknya kamu kerjakan. Passion adalah hal yang kamu temukan ketika kamu sudah melakukan banyak hal. Kamu sudah merasakan berbagai macam aktvitas, hingga akhirnya kamu bisa memilih mana yang paling kamu sukai. Mana hal yang rasanya terlalu berat untuk ditinggalkan. Hal yang begitu menyenangkan untuk dikerjakan, meski bagi sebagian orang rasanya sungguh berat. Tapi kamu kerjakan dengan penuh senyum. Itulah, passion.

Kamu beranjak dari tempatmu berlindung dari teriknya matahari. Bergegas melangkah pulang ke rumah. Di kepalamu saat ini hanya ada satu hal. Kamu ingin segera mencoba melakukan banyak hal. Seperti apa yang sudah sahabatmu lakukan. Kadang, kita hanya harus berani melangkah, untuk menemukan jalan yang terbaik untuk kira. Some wise man said, “A big step, start from a very small step.” Ketika kamu hanya duduk termenung dan tidak mencoba apapun, jawabanmu mengenai kehidupan tak kan kunjung menghampirimu. Jalan yang benar tidak datang dengan sendirinya, kamu harus berusaha mencarinya. 

You just need to try. Everything, start from a small thing J

No comments:

Post a Comment