Monday, April 20, 2015

Birds of A Feather Flock Together

Si hijau telah digantikan oleh si merah. Seperti barisan bebek yang diangon, hampir semua orang berhenti mematuhi si merah (ada beberapa orang yang sepertinya buta warna tetap nekat jalan menerobos si merah). Sembari menanti si hijau hadir kembali, kepala ini tolah-toleh ke segala penjuru mencari sebuah objek untuk dijadikan pelarian. Mata ini berakhir pada sekawanan burung yang bertengger di kabel listrik. Jumlahnya sangat banyak, mungkin ratusan. Sekawanan burung ini berbaris sangat rapat, mungkin untuk mengusir hawa dingin sore petang itu. Saya tidak tahu jenis burung apa saja itu. Saya yang minim pengetahuan akan burung dan berjarak sekitar 50 meter dari burung, hanya berhasil mengidentifikasi ukuran tubuh burung tersebut. Warnanya sih kayanya coklat atau abu-abu. Yah, suasana gelap menjelang maghrib mengurangi kemampuan mata membedakan warna. Sepertinya sih itu burung gereja, burung yang memang sering ditemui di tengah pemukiman penduduk. Oke, satu jenis burung berhasil teridentifikasi, mari mengidentifikasi jenis lainnya. Mata mulai menyusuri kawanan burung itu, mencari burung selain burung gereja. Dan saya terpaksa kecewa, karena saya tidak menemukan burung selain burung gereja. Ratusan burung yang bertengger di kabel-kabel listrik itu ternyata burung gereja semua. Si hijau sudah menyala kembali, memaksa saya meninggalkan kawanan burung gereja itu…
A wise man once said, “Birds of a feather flock together”. Saya sudah lama tahu kalimat bijak ini, cuma saya baru saja berkesempatan membuktikan kebenaran kalimat itu. Terbukti dari pengalaman mengamati ratusan burung yang ternyata berjenis sama. Kalau burung berkumpul karena bulunya sama, kalau manusia? Rasanya kalau manusia dipersatukan oleh hal-hal yang bersifat psikologis, bukan secara fisik. Ada beberapa hal yang mungkin mempersatukan sekumpulan anak manusia menjadi sebuah kawanan, misalnya : hobi, interest, kepercayaan, sifat, visi dan sebagainya. Secara disadari atau tidak, alam bawah sadar kita menyeleksi lingkungan sekitar kita sesuai dengan hal-hal yang ada di dalam diri kita. Kalau kita suka dengan fotografi, secara otomatis kita akan merasa nyaman dengan lingkungan para pecinta fotografi. Otak kita yang sangat canggih ini bisa memilah begitu banyak informasi yang kita terima sesuai dengan kepentingan kita, termasuk dalam hal memilih teman atau lingkungan bergaul. Nggak percaya? Coba tengok ke dalam diri sendiri dan jawab pertanyaan ini : “Apa hobiku?” Kemudian lihat lingkungan terdekat kita. Pasti kita dikelilingi oleh orang-orang dengan hobi yang serupa dengan kita.
Jadi, keadaan psikologis seseorang yang mempengaruhi proses pemilihan teman bergaul? Gimana kalau sebaliknya? Lingkungan yang mempengaruhi keadaan psikologis kita. Masih ingat petuah orang tua kita dulu? Dulu saya sering dikasih wejangan orang tua untuk nggak deket-deket sama anak yang tergolong nakal. Karena katanya saya bisa ketularan nakal. Dulu sih saya nggak percaya dengan konsep semacam itu. Tapi seiring dengan bertambahnya umur dan pengalaman, konsep itu mulai saya percayai. Saya percaya bahwa lingkungan kita sedikit banyak akan berpengaruh ke diri kita sendiri. Mungkin ada sebagian orang yang berargumen, “Ah, itu kan tinggal pintar-pintarnya kita menjaga diri,” atau “Kalau emang kitanya baik, ya nggak bakal ketularan yang jelek!” Ada betulnya juga sih argument semacam itu. Namun lagi-lagi, otak kita ini super duper canggih. Secara tidak sadar, otak kita mempelajari keadaan di sekitar kita dan nilai-nilai di dalamnya. Dan lagi-lagi otak akan menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan yang ada. Maka, bisa saja orang yang awalnya menganggap mencontek itu tidak baik jadi ikut-ikutan mencontek karena seluruh teman sekelasnya menghalalkan kegiatan mencontek. Saking dahsyatnya pengaruh lingkungan sekitar kita, ada pepatah yang bilang, “What we’ll become in the next 10 years could be seen by looking who’s our friend”. If we’re surrounded by entrepreneur, we’re likely grow becoming entrepreneur. If we’re surrounded by artist, we’ll tend to be an artist too. What about if we’re surrounded by bad people? Well, I guess it’s clear enough J

Your environment have a big impact to yourself. If it’s good, it’ll turn you into a better person. If you feels like you’re not improving, try to change your environment. Try to find another new circle. A new environment might change you. Try to find the best environment that suit you. Remember, BIRDS OF A FEATHER FLOCK TOGETHER J

No comments:

Post a Comment