Wednesday, February 18, 2015

KKN : Kisah Keluarga Nyata


Apa arti keluarga? Sebagian besar orang akan menjawab, "bapak, ibu, anak". Ada juga yang jawab, "orang yang punya hubungan darah ama kita". Tapi cuma sedikit orang yang menyadari bahwa keluarga itu ga cuma tentang bapak, ibu sama anak. Keluarga juga ga cuma sebatas orang yang punya hubungan darah ama kita. Sometimes, family isn't always blood. And lately, I've been in a great experience that make me believe if I have another family out there. The family that not come from the same blood.

Tepat hari ini, saya baru aja menjalani KKN selama 45 hari di desa Cepogo, Boyolali. Iya, bener, 45 hari. Sekali lagi, 45 hari!! Waktu 45 hari, kalau dipake buat ngerjain skripsi mungkin bisa sampai bab 2 kali . Kalau dipake buat bercocok tanam, mungkin tanamannya udah mau panen. Kalau dipake buat mengerami telur ayam, bisa buat 2 periode. (Fyi : telur ayam butuh waktu sekitar 21 hari buat menetas). Kalau dipake buat pdkt ama temen sendiri, mungkin udah sampai fase friendzoned :((

Kok mau sih KKN selama 45 hari? Jawabannya : KARENA DIWAJIBIN AMA KAMPUS!! Ga males gitu KKN selama 45 hari? Jawabannya : MALEEES BGTZ!! Bahkan dulu pas h-1 keberangkatan, rasanya masih ga rela kalo besok harus berangkat KKN. Dulu pas h-1 keberangkatan, timeline twitter, newsfeed facebook, status BBM, postingan path didominasi dengan sambatan tentang KKN. Rata-rata mahasiswa pada males harus menjalani KKN. Saya? Ga ikutan update sambatan, tapi cukup sambat dalam hati.

Selama 45 hari saya harus terdampar di desa Cepogo, kecamatan Cepogo, Boyolali. Sekedar informasi, awalnya saya ditempatkan di desa Kembangsari, kecamatan Musuk, Boyolali. Tapi, entah apa dosa saya, h-7 KKN saya dipindah ke Cepogo. Makin males KKN karena harus adaptasi sama kelompok baru yang ditempatkan di Cepogo. Sempat sedikit stress, karena pertama kali ketemu kelompok Cepogo itu orangnya pendiem bangeeets. Bisa mati garing nih kalo 45 hari bergaul ama orang-orang pendiem ~

I thought it would be the worst 45 days I ever had in my life. I thought it would felt like living in hell. And the fact, what I thought was true. It's even worse, but only for the first week. Minggu pertama adalah minggu terberat di dalam perjalanan KKN saya kali ini (kali ini? Berarti ada lain kali?). Harus adaptasi ama lingkungan yang dinginnya setara ama dinginnya sikap gebetan ke kita. Harus adaptasi ama temen baru. Harus sok asik ama temen baru. Kampretnya, udah dibelain sok asik, yang di 'sok asik' in diem aja ~
Minggu pertama rasanya pengen pulaaaang..........

Ternyata yang felt like hell cuma di minggu pertama. Minggu kedua? Felt like you live in 2 hells!!!! Nope,just kidding. Perlahan tapi pasti, everything is getting better. Mulai akrab ama temen baru. Mulai keliatan sifat aslinya yang ternyata ga jauh beda ama saya yang suka bercanda ini. Ternyata temen-temen saya ini bukan pendiem, cuma masih sok malu-malu aja. Mereka pada malu kalo dari awal udah ketahuan pada doyan kentut, ngorok, ngigau, dll, dkk, dst, dsb. Setiap hari menghabiskan waktu bareng, bikin saya ngerasa kalau kelompok KKN ini udah bukan sekedar kelompok KKN lagi. We are family. This is the moment I realize that non-blood family does exist, and I had one of my own. 45 hari hidup bareng, bikin kami makin akrab, makin ngerti sifat masing-masing, keburukan dan kebaikan masing-masing. Dan justru semakin kami kenal satu sama lain, semakin kami ga mempermasalahkan perbedaan yang ada. Buat kami yang penting adalah kami bisa membuat waktu selama 45 hari ini terasa begitu cepat dan menyenangkan. Buat saya pribadi, pelajaran terpenting dari KKN bukan tentang gimana ngurus ijin PIRT, bukan tentang gimana nimbang anak di Posyandu, bukan tentang gimana bikin vertikultur . Tapi, tentang kebersamaan. Bagaimana kebersamaan bisa menyatukan perbedaan yang ada. Kelompok saya terdiri dari 9 orang. 9 kepala, 9 latar belakang yang berbeda, 9 sifat yang berbeda pula. Namun, segala perbedaan itu ga berarti apapun ketika kami memahami apa arti kebersamaan. Kami belajar untuk memahami perbedaan, bukan menghilangkan perbedaan. Kami menghargai perbedaan satu sama lain, mencoba untuk memahaminya dan hidup berdampingan dengannya.

Family is not always blood. Family is everybody who understand both your good and bad side. Family is everybody who take care of you, everybody who protect you and everybody who make you smile. I just found a new family through KKN.


Keluarga baru yang membuat 45 hari yang terasa berat di awal, menjadi 45 hari terbaik dalam hidup saya. 45 hari yang kelak akan saya rindukan. 45 hari yang menjadi salah satu memori manis dalam hidup saya. Bagaikan matahari yang selalu bersinar setelah malam pergi, memori itu akan selalu kembali mengisi hati dan otak kanan saya, mengundang sejuta senyum dan tawa.

Now, I'd like to say proudly, "I'm glad that I had my KKN in Cepogo!" :)

Mungkin di postingan selanjutnya saya bakal perkenalkan personil kelompok KKN Cepogo (kalau diijinin ama yang bersangkutan).
Squad KKN Cepogo!!!!


No comments:

Post a Comment