Tuesday, December 23, 2014

Brand awareness, Brand Equity dan Hubungannya dengan Probabilitas Kamu di Friendzone

Kalo ada yang bilang ibu tiri itu paling kejam dari segala kekejaman yang ada, berarti dia belum pernah ngalamin kuliah semester 7. Semester dimana para mahasiswa mengemban tugas yang sama beratnya kaya perjalanan biksu Tong ke barat untuk mengambil kitab suci. Laporan magang, tugas akhir adver, video, jurnalistik, proposal skripsi + proposal KKN bisa bikin kepala nyut-nyutan selama beberapa bulan ~

Buat sebagian besar orang, semester 7 mungkin berat. Tapi buat saya, biasa aja tuh B) *ditampol*. Buktinya adalah di semester 7 yang katanya berat ini, saya masih bisa iseng-iseng ikutan bantu penelitian dosen. Iya, cuma iseng kok. Iseng aja bantuin penelitian dosen terus datanya dipake buat bahan skripsi, deh. Huehehehehe. Oke, penelitian dosen saya ini meneliti tentang merk terbaik. Penelitian ini mau kepo, apa sih merk dari produk tertentu yang dianggap terbaik menurut orang Solo & Jogja.

Postingan ini ga bakal ngebahas soal metodologi penelitiannya. Tapi selama saya bantuin penelitian ini, saya menemukan suatu hal yang ternyata bisa diaplikasikan di dalam kehidupan cinta kita. Let me explain you one simple thing. Jadi, penelitian dosen saya ini pake teorinya Aaker (Building Strong Brand by David A. Aaker) sebagai landasan teori. Si Aaker ini bilang kalo kekuatan merk terbaik (brand equity) dibangun dari brand loyalty, brand awareness, perceived quality & brand association. Masing-masing faktor ini punya kontribusinya masing-masing dalam membentuk kekuatan merk. Bisa jadi brand awareness yang berkontribusi paling besar dalam membentuk brand equity, atau justru faktor lainnya. Bisa jadi seseorang aware terhadap suatu merk, tapi bukan merk itu yang menurut dia sebagai merk terbaik.

Ok, masuk ke pengimplementasian konsepnya si Aaker ini ke dalam kehidupan cinta kita. Yang menarik dari konsep brand equity ini adalah kita ga bisa menggeneralisir faktor apa sajakah yang berkontribusi paling banyak dalam membentuk brand equity. Contohnya adalah bisa jadi merk yang masih baru dan belum dikenal tapi justru jadi merk terbaik, atau merk yang dikenal banyak orang belum tentu merupakan merk terbaik. Pahit kaaaan.

Nah, coba kita analogikan konsep ini ke dalam kehidupan cinta kita. Anggap diri kita adalah sebuah merk yang cukup dikenal dengan baik oleh teman-teman kita. Kita punya banyak kenalan cowok dan cewek yang gebetable (preferensi jenis kelamin yang mau digebet kembali ke diri masing-masing). Setelah kita menentukan pilihan siapa yang mau kita gebet, pasti kita akan memberikan effort serta perhatian lebih ke gebetan kita. Nah, karena gebetan kita terterpa oleh keberadaan dan perhatian kita secara terus menerus, logis kalau gebetan kita aware sama kita. Artinya brand awareness gebetan kita tentang diri kita udah terbangun nih. Tapi, apa brand awareness doang cukup untuk membuat kita jadi merk terbaik? Balik lagi ke konsep dan teori Aaker, ada banyak faktor yang membentuk brand equity.

Gebetan sudah aware sama kita, dan proses PDKT terus berjalan dengan intens. Kita udah optimis dengan awareness gebetan kita terhadap diri kita selama ini. Dan tiba-tiba dia jadian sama orang lain!!!! DUAAAAAR!!!!!!! Di titik ini  kita bakal bertanya, “apa yang kurang dari saya?”. Padahal gebetan udah aware banget tuh sama kita, tapi kenapa yang jadi merk terbaik buat gebetan kita adalah orang lain? Dan kenapa gebetan kita memilih orang lain sebagai future brand (merk yang akan digunakan / dalam konteks ini orang yang dijadiin pacar)? Ternyata awareness doang ga cukup buat membentuk sebuah kekuatan merk, persis kaya apa yang udah diterangin sama si Aaker.

Jadi kalau kita mau jadi merk terbaik sekaligus jadi future brand, kita ga boleh puas cuma gara-gara udah jadi merk yang dikenal. It’s never enough, bro and sis. Buat apa dikenal dengan amat sangat baik tapi ujung-ujungnya gebetan jadian ama orang lain? Kalau kita cuma terjebak di dalam zona awareness doang, kayanya kita sudah resmi terindikasi terjebak friendzone ~ Kalau cuma dikenal dengan baik doang, nanti jatuhnya cuma dapet kata-kata “kita cukup temenan aja, ya J” Beda cerita kalo yang level awareness kita udah sampai awareness nya orang tua. Nah, masih mungkin kita bakal jadi merk terbaik. Ingat, restu dan ridho orang tua itu penting banget. Nggak percaya? Coba inget-inget ceritanya Malin Kundang, deh.

Well, ternyata teori marketing macam punya si Aaker gini bisa dijelaskan dengan mudah melalui kehidupan cinta kita. Sudah siap bersaing untuk jadi merk terbaik? J
Lagi-lagi ini adalah postingan hasil quick writing dari random thought seorang research assistant. Jangan dianggep serius-serius banget. Kalo mau serius ya dilamar, dong. Ah, sudahlah………

Oh, dan tulisan ini tidak dibuat berdasarkan pengalaman pribadi penulis. Jadi jangan mengasumsikan kalo saya ini lagi curhat terselubung menggunakan embel-embel teorinya om Aaker. Sekian….........

No comments:

Post a Comment